Apa itu Fenomena Arab Spring?

Arab Spring, atau Musim Semi Arab, merupakan istilah populer yang merujuk pada serangkaian peristiwa gerakan demonstrasi yang terjadi di kawasan Timur Tengah, khususnya negara-negara Arab, yang mana itu dimulai pada sekitar tahun 2011. Fenomena Arab Spring ini menggambarkan dinamika politik yang terjadi di negara-negara Arab seperti Libya, Mesir, Tunisia, dan yang lainnya.

Penggunaan kalimat “Arab Spring” yang pertama kali untuk merepresentasikan situasi Arab ini diinisiasi oleh jurnal akademik politik Amerika Serikat “Foreign Policy”. Marc Lynch, seorang ilmuwan politik asal Amerika, yang menggunakan istilah ini dalam artikel yang ia tulis dalam jurnal “Foreign Policy” (Abusharif, 2014). Fenomena Arab Spring ini juga dapat dikatakan sebagai suatu peristiwa gerakan kelompok revolusioner oleh masyarakat sipil, khususnya para pemuda, di negara-negara Arab yang menganut sistem rezim otoriter. Ini merupakan bentuk aksi protes mereka terhadap rezim tersebut. Lantas, apa yang melatarbelakangi munculnya gerakan tersebut?

Fenomena Arab Spring ini tidak terjadi begitu saja. Menurut Meltz (2016), ketika seorang pedagang buah asal Tunisia, pada Desember 2010, membakar dirinya sendiri sebagai bentuk protes terhadap pemerintahnya, menuai penyebaran terkait pemberontakan dan protes secara besar-besaran di sekitar kawasan. Warga Tunisia yang melakukan aksi itu bernama Mohamed Bouazizi. Bouazizi membakar diri setelah polisi menyita dagangan berupa buah dan sayur yang merupakan satu-satunya sumber penghasilan (Umar et al, 2014). Dan pada 4 Januari 2011 di suatu rumah sakit, Bouazizi dinyatakan meninggal dunia akibat luka bakar yang dideritanya setelah melakukan aksi tersebut. Dari peristiwa inilah yang pada akhirnya memicu gerakan demonstrasi dari masyarakat Tunisia terhadap rezim yang saat itu dikuasai oleh Zine al-Abidine Ben Ali. Pada faktanya, sebelum aksi yang dilakukan oleh Bouazizi itu terjadi, Tunisia memang telah dilanda krisis ekonomi akibat maraknya korupsi dan tingginya tingkat pengangguran pada masa rezim Ben Ali tersebut. Tentu hal ini semakin mendorong masyarakat Tunisia untuk melakukan gerakan demonstrasi yang akhirnya membawa pada lengsernya rezim Ben Ali dengan ditandai oleh dirinya yang memilih untuk lari ke Jeddah, Arab Saudi, akibat tidak mampu menghadapi para demonstran dan segala kerusuhan yang terjadi.

Setelah berakhirnya rezim Ben Ali di Tunisia, pengaruh dari adanya gerakan tersebut dirasakan oleh negara-negara Arab lainnya yang memiliki nasib kurang lebih serupa. Salah satunya adalah Mesir. Pada saat itu, Mesir dikuasai oleh rezim Hosni Mubarak yang juga diketahui memiliki gaya pemerintahan yang otoriter. Mubarak telah dianggap gagal oleh masyarakat Mesir karena tidak mampu membangun negara tersebut. Kondisi Mesir semakin terpuruk akibat tingkat korupsi dan pengangguran yang kian meninggi. Jika kita melihat kembali pada Tunisia di masa rezim Ben Ali, kondisi yang dialami oleh Mesir ini tak jauh berbeda dari Tunisia. Selain itu, masyarakat Mesir semakin terpicu untuk melakukan gerakan demonstrasi setelah terjadinya peristiwa yang menimpa seorang pemuda Mesir bernama Khalid Said. Said meninggal dunia akibat mengalami penyiksaan oleh intelijen Mesir. Jika kita mengingat kembali apa yang terjadi pada Bouazizi, tentu peristiwa ini memiliki kemiripan. Masyarakat Mesir yang berjumlah jutaan itu bangkit melawan rezim otoriter dengan menyatukan kekuatan mereka yang hanya sebagai masyarakat sipil dan gerakan revolusi mereka itu berhasil menekan Mubarak. Pada akhirnya, Hosni Mubarak resmi dinyatakan mengundurkan diri dari kursi pemerintahannya pada 11 Februari 2011.

Kedua negara tersebut dikenal memiliki rezim otoriter yang kuat. Dengan berhasilnya gerakan revolusi pemerintahan di kedua negara itu, memberikan pengaruh pada negara-negara lain di kawasan Timur Tengah. Pada faktanya, fenomena Arab Spring ini bukan didobrak oleh seorang tokoh maupun kelompok penting. Melainkan oleh masyarakat sipil khususnya para pemuda. Masyarakat sipil di Timur Tengah ini berfungsi layaknya sebuah instrumen sosial yang mengontrol rezim otoriter di Arab. Sejak pertengahan tahun 2000 pun pergerakan model baru mulai terlihat dalam masyarakat Arab dan para aktivis di Arab telah mengembangkan bentuk-bentuk protes baru seperti kampanye umum, kampanye boikot, adanya keterlibatan para pemuda, cyberactivism, dan segala bentuk protes berupa karya seni (Seeberg, 2015).

Fenomena Arab Spring yang terjadi di Tunisia dan Mesir telah memberikan dorongan pada masyarakat di negara-negara Arab lainnya seperti Libya, Bahrain, Yordania, Yaman, dan bahkan Suriah yang sampai saat ini konfliknya masih berlanjut. Fenomena ini menandakan kebangkitan masyarakat sipil di kawasan Timur Tengah. Memberikan harapan tersendiri pada mereka untuk dapat hidup lebih demokratis dengan melakukan berbagai upaya melalui gerakan-gerakan protes seperti berdemonstrasi secara langsung maupun aksi protes melalui teknologi informasi seperti menggunakan sarana social media untuk memeroleh simpatisan dan juga dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk menekan rezim tertentu.

Daftar Pustaka:

Abusharif, I. N. (2014). Parsing Arab Spring (Occasion Paper Series). Northwestern University. https://www.qatar.northwestern.edu/research/publications/2014-parsing-arab-spring.html Meltz, D. (2016). Civil Society in the Arab Spring: Tunisia, Egypt and Libya. University of Colorado. https://scholar.colorado.edu/concern/undergraduate_honors_theses/cj82k795h QadirMushtaq, A., & Afzal, M. (2017). Arab Spring: Its Causes and Consequences. JPUHS, 30(1), 1-10. http://pu.edu.pk/home/journal/40/V_30_No_1_Jun_2017.html Sahide, A., Hadi, S., Setiawati, S. M., & Cipto, B. (2015). The Arab Spring: Membaca Kronologi dan Faktor Penyebabnya. Jurnal Hubungan Internasional, 4(2), 119-129. https://doi.org/10.18196/hi.2015.0072.118-129 Seeberg, P. (2015). Bringing People Back in Politics: the Role of Civil Society, Political Parties, and Regional Organizations in A Changing Middle East, Democracy, and Security. Taylor & Francis Group, 11(2), 99-110. https://doi.org/10.1080/17419166.2015.1036235 Umar, A. R. M., Darmawan, A. B., Sufa, F., & Ndadari, G. L. (2014). Media Sosial dan Revolusi Politik: Memahami Kembali Fenomena “Arab Spring” dalam Perspektif Ruang Publik Transnasional. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 18(2), 130-145. https://doi.org/10.22146/jsp.13130 Wangke, H. (2014). Masyarakat Sipil dan Transisi Demokrasi di Timur Tengah. DPR-RI. https://berkas.dpr.go.id/puslit/files/info_singkat/Info%20Singkat-VI-3-I-P3DI-Februari-2014-4.pdf

13 thoughts on “Apa itu Fenomena Arab Spring?

  1. Penyampain beritanya cukup menarik, tapi sayang hanya menyampaikan berita dipermukaan saja. Mungkin akan lebih menambah bobot kalau ditambah ulasan peranan Amerika dgn presidennya Obama dalam arab spring. Pidato Obama di Kairo sebelum Arab Spring, peranan dan dukungan Amerika atas lengsernya Ghadafi di Libya, bantuan dan dukungan Amerika terhadap milisia di Syria, yg kemudian ber-evolusi menjadi ISIS, dan seterusnya.

  2. Pingback:check here
  3. Pingback:ruger gun store

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *