Apakah Perekonomian China akan Terhenti Jika Mengikuti Model Pembangunan ala Jepang di Kawasan Asia Timur?

Negara-negara di kawasan Asia Timur memiliki pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat dengan model pembangunan yang berdasarkan pada tiga pilar utama yaitu sebagai berikut: reformasi pertanian, manufaktur berorientasi ekspor, dan represi keuangan (Kroeber, 2016). Jepang merupakan negara pertama tercepat di Asia yang sukses melakukan proses pembangunan ekonomi setelah kehancurannya karena Perang Dunia II. Menurut Johnson (1982: 23). Kebangkitan Jepang terealisasikan dengan cepat karena adanya dukungan dari pemerintah Jepang dalam hal ekonomi dan industralisasi atau dikenal dengan Developmental State. Developmental State menjadi model pembangunan dari Jepang dimana salah satu keberhasilannya adalah strategi formasi angsa terbang (flying geese). Menurut strategi ini, Jepang berada pada posisi terdepan yang memimpin perekonomian Asia dengan pembangunan ekonomi melalui pemberian modal, transfer pengetahuan teknologi dan kapabilitas manajemen.

Jepang menggunakan investasi keiretsu (pengelompokan industri) sebagai sarana untuk memasuki pasar di Asia Timur serta memperluas pengaruh Jepang di wilayah tersebut. Sekitar tahun 1990-an, perusahaan Jepang telah melakukan investasi sebesar 100 miliar dolar AS dengan lebih dari 4.500 perusahaan Jepang dengan kategori individu atau bersama yang mempekerjakan hampir satu juta orang di wilayah tersebut. Jepang juga melakukan investasi lain dengan transfer teknologi sebesar satu miliar dolar AS (Gilpin, 2004: 202 dalam Voinea, 2019: 50). China merupakan salah satu dari 14 negara di dunia yang berhasil meningkatkan pendapatan per kapita setelah Perang Dunia II. China merupakan negara kedua di dunia yang memiliki perekonomian terbesar.

Menurut Varoufakis (2017 dalam Voinea, 2019, hlm.52), dalam perkembangan China bahwa strategi yang dicanangkan oleh Deng Xiaoping terinspirasi dari Jepang dan harimau Asia Tenggara (Japan and the South East Asia tigers). Pembangunan ekonomi yang dilakukan China berdasarkan pada gagasan ekonomi ganda dengan pemerintah pusat akan mengarahkan terhadap investasi seperti halnya pembangunan ekonomi ala model Jepang dan akan menegosiasikan transfer teknologi dan investasi langsung asing dengan perusahan multinasional Eropa Barat dan Jepang. Tapi apakah jika China mengikuti model pembangunan ala Jepang di kawasan Asia Timur akan membuat perekonomian negaranya terhenti seperti halnya yang dialami oleh Jepang?

 Pada tahun 1980-an, Jepang memiliki PDB per kapita yang lebih rendah dari Amerika Serikat sekitar 30%, sepuluh tahun kemudian Jepang hanya memiliki perbedaan sekitar 17%. Pertumbuhan ekonomi Jepang mulai melambat sekitar tahun 1990-an, PDB Jepang hanya naik sekitar 0,7% jika dibandingkan 4,6% dalam tiga dekade terakhir dan hal ini disebut dengan periode “the lost decade” (Voinea, 2019: 53). Setelah ditelaah penyebab melambatnya perekonomian Jepang yaitu dikarenakan populasi yang menua. Pada tahun 1990-an merupakan tahun yang menjadi titik balik populasi usia kerja Jepang yang mulai berkurang, peningkatan hutang publik, serta runtuhnya realisasi pasar real estate.

China masih memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, akan tetapi pertumbuhan ekonomi China seiring berjalannya waktu melambat karena populasi yang menua dan perekonomian yang bergeser dari model investasi menjadi model konsumsi. Penuaan penduduk merupakan salah satu ciri umum dalam perkembangan Jepang maupun China. Jepang merupakan negara tertua dengan 33% populasi berusia 60 tahun atau lebih. Terdapat dua dampak terkait tingkat kelahiran antara lain sebagai berikut: pertama, adalah dampak jangka pendek dimana meningkatnya partisipasi perempuan di pasar tenaga kerja, peningkatkan produktivitas, dan sebagainya. kedua, adalah dampak jangka panjang yaitu adanya tekanan pada dana pensiun dan sistem jaminan sosial, berkurangnya tenaga kerja serta produktivitas rendah.

China akan mengalami perubahan demografis yang mendalam antara tahun 2020 dan 2025, dimana perekonomian China akan mencapai Lewis Turning Poin (Titik Balik Lewis), dikarenakan sebagian besar angkatan kerja hanya terkonsentrasi di daerah perkotaan, lalu bekerja di sektor industri dan jasa, serta pertumbuhan ekonomi berasal dari penggunaan faktor produksi yang intensif (Das dan N’Diaye, 2013: 2). Saat produktivitas modal mulai melambat, China terpaksa menginvestasikan uang dengan jumlah yang semakin banyak untuk mendorong pertumbuhan ekonomi negaranya. Karena, penggunaan investasi yang tidak efektif menyebabkan beban utang negara yang lebih signifikan, sama seperti yang dialami oleh negara Jepang. Setelah China mengalami krisis keuangan pada tahun 2008, mereka terus menambah beban utang negaranya yang telah mencapai titik tertinggi. Hutang publik dan swasta sekarang telah mencapai 250% dari PDB, naik dari 150% dari PDB sebelum krisis tahun 2008 (OECD, 2017: 18 dalam Voinea, 2019: 56).

Jepang dan China memiliki rencana untuk pertumbuhan ekonomi di masa depan. Jepang memiliki rencana dengan julukan “Abenomics” yang dipimpin oleh Perdana Menteri Shinzo Abe pada tahun 2013 dengan melaksanakan langkah-langkah sebagai berikut: investasi dalam Usaha Kecil dan Menegah (UKM), reformasi fiskal dengan tujuan untuk upah yang lebih tinggi dan peningkatan produktivitas, dukungan terhadap sektor penelitian dan pengembangan melalui kerja sama antara perusahaan swasta, pemerintah dan akademis, dan investasi publik dalam infrastruktur serta meningkatkan jumlah kehamilan, perempuan akan didorong untuk bekerja, dan pengeluaran tambahan untuk pemerintah akan dikompensasikan dengan kenaikan tarif PPN (Voinea, 2019: 56).

China menggunakan pendekatan laissez faire yaitu pertumbuhan ekonomi yang direncanakan secara terpusat hingga detail terkecil (Kennedy dan Johnson, 2016: 3). Rencana Lima Tahun ke-14 China akan ditargetkan dengan berpusat terhadap kemandirian ekonomi, lingkungan yang lebih bersih dan inovasi teknologi. Karena adanya virus corona (Covid-19) dan perselisihan antara China dan AS, perekonomian China sempat melambat secara signifikan. Akan tetapi hal tersebut tidak bisa menghentikan perekonomi China. Dalam ekonomi global China akan mengalami kenaikan sebesar 18,1% pada tahun 2025 dari 16,2% pada tahun 2019, sedangkan pasar AS akan mengalami penurunan sebesar 21,9% dari 24,1% dalam periode yang sama (Lestari, 2020). Dalam satu dekade mendatang, bisa diprediksi bahwa perekonomian China akan mengalahkan Amerika Serikat.

Menurut Yi Fuxian (dalam Lestari, 2020) berpandapat bahwa jika dilihat dari faktor demografis, China tidak akan bisa melampaui AS di masa mendatang karena populasinya yang menua. Hal ini menjadi tantangan bagi negara China dalam lima tahun ke depan. Satu dari setiap lima warga negara China akan berusia di atas 60 pada tahun 2025, sedangkan populasi tenaga kerja di negara China diperkirakan akan berkurang hingga 20 juta selama periode tersebut. Maka bisa dianalisis bahwa pertumbuhan ekonomi China mungkin akan melambat di masa mendatang, tetapi tidak berhenti.

Daftar Pustaka

Das, M.P., & N’Diaye, P. (2013). Chronicle of a Decline Foretold: Has China Reached the Lewis Turning Point? (IMF Working Paper 13/26). https://www.imf.org/external/pubs/ft/wp/2013/wp1326.pdf

Johnson, C. (1982). MITI and the Japanese Miracle: The Growth of Industry Policy 1925-1975. Stanford University Press.

Kennedy, S., & Johnson, K.C. (2016). Perfecting China, Inc.: The 13th Five-Year Plan. CSIS.

Kroeber, R.A. (2016). China’s Economy: What Everyone Needs to Know. Oxford University Press.

Voinea, I. (2019). The Role of  Japan in the Development of Emerging Markets in Asia. Key lessons learned for China. Asociatia Generala a Economistilor din Romania – AGER, 2(619), 47-62.

Lestari, R. (2020). China Diramal Ambil Alih Posisi AS Jadi Ekonomi Terkuat Dunia pada 2032. Kabar24. https://kabar24.bisnis.com/read/20200903/19/1286660/china-diramal-ambil-alih-posisi-as-jadi-ekonomi-terkuat-dunia-pada-2032

38 thoughts on “Apakah Perekonomian China akan Terhenti Jika Mengikuti Model Pembangunan ala Jepang di Kawasan Asia Timur?

  1. Artikel nya menarik, kalimat-kalimat yang digunakan mudah dipahami, bisa menambah pengetahuan. Terima kasih author atas karyanya

    1. Pemahaman yang cukup dalam, terasa sekali antar paragraf berkesinambungan. Namun analisis yang mendeskripsikan Cina perlu ditambahkan kembali. Terima kasih

  2. Pembahasannya menarik, dengan gaya penulisan dan bahasa yang mudah dimengerti. Banyak informasi yang aku dapat dari tulisannya . Thankyou udah buat tulisan dan nambah wawasan ku terkait perekonomian China yang lagi bikin aku kepo banget hihi

  3. Assalamualaikum wr wb..salam sejahtera bagi kita semua salam kedamaian bagi umat Manusia..

    Pembahasannya yg sangat menarik, Dengan gaya penulisan dan Tata bahasa yang mudah dimengerti. Banyaknya informasi yang saya dapat ..Artikel yg Mudah Dipahami Terima kasih atas informasinya.. 🙏🙏

  4. Artikel yang sangat bermanfaat untuk menambah wawasan saya sebagai mahasiswa HI, saya ucapkan banyak terimakasih kepada penulis atas sharing ilmunya, ditunggu artikel-artikel menarik lainnya.

  5. Artikel yang menarik sangat menambah wawasan serta penulisan yang mudah dipahami oleh pembacanya, terimakasih Jihan telah membuat artikel ini. Goodluck! 💫

  6. Artikel yang sangat menarik untuk dibaca, dikemas dengan bahasa yang sangat mudah dipahami, dan menambah wawasan bagi para pembacanya. Good job, author🙏

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *