Kenaikan Kapabilitas Militer Tiongkok, Ancaman Bagi Kawasan Asia Timur

Pasca perang dingin berakhir, isu keamanan tradisional mulai bergeser dari penggunaan kekuatan dan militer menjadi isu isu konvensional seperti ekonomi, lingkungan dan fokus pada human security. Namun, pergeseran isu ini bukan berarti isu keamanan tradisional benar-benar hilang dan dianggap tidak penting lagi. Ancaman militer tetaplah menjadi faktor terbesar dalam instabilitas kawasan. Kawasan Asia Timur merupakan kawasan dengan rivalitas militer yang cukup menegangkan antara 3 negara kuat Tiongkok, Korea Selatan dan Jepang.

Anggaran militer Tiongkok terus naik setiap tahunnya bahkan sejak 20 tahun terakhir. Pada tahun 2000, Tiongkok hanya membuat anggaran belanja militer sebesar USD 14.6 Miliyar dan di tahun 2020 mencapai USD 178.6 Miliyar. Pada tahun 2011 anggaran militer Tiongkok mencapai 601.1 miliyar RMB; tahun 2012 sebesar 670.27 miliyar RMB; tahun 2013 sebesar 720.17 miliyar RMB; tahun 2014 sebesar 808.23 miliyar RMB; tahun 2015 sebesar 886.9 miliyar RMB; tahun 2016 sebesar 954.35 miliyar RMB; tahun 2017 sebesar 1044.4 miliyar RMB; tahun 2018 sebesar 1106.95 miliyar RMB; tahun 2019 sebesar 1189.87 miliyar RMB; dan tahun 2020 sebesar 1268 miliyar RMB (Citradi, 2020). Data tersebut menunjukan bahwa setiap tahunnya anggaran belanja militer Tiongkok naik setidaknya diatas 5% dari anggaran tahun sebelumnya.

Peningkatan anggaran belanja militer ini juga diikuti oleh pengembangan kapabilitas militer Tiongkok dalam hal modernisasi industri alutsista. Sejak tahun 2000, Tiongkok telah mulai meningkatkan produksi alutsistanya sendiri dibandingkan dengan impor (Bitzinger, 2011). Dalam 17 tahun, Tiongkok sudah memiliki 11 perusahaan industri militer yang mampu memproduksi alutsistanya sendiri. Meskipun perkembangan modernisasi industri alutsista Tiongkok secara mandiri sangat massif, Tiongkok tetap melakukan impor untuk komoditas seperti aircraft, helicopter, mesin pesawat serta kapal (Fleurant, et al., 2017). Rusia masih mendominasi impor alutsista Tiongkok hingga sebesar 57% (Santoso, 2019).

Teknologi rudal Tiongkok diklaim menjadi senjata hipersonik yang mampu mengalahkan teknologi Amerika Serikat. Rudal tipe DF-41 yang dimiliki Tiongkok mampu menjangkau jarak 15000 km, yang berarti mampu mencapai Amerika Serikat dalam waktu 30 menit (Cordesman & Colley, 2016). Pada parade perayaan 70 tahun nasional, Tiongkok juga memperkenalkan kapal selam tanpa awak pertamanya. Tiongkok juga memiliki pesawat pengebom jarak jauh yang saat ini hanya dimiliki AS dan Rusia. Pesawat ini dikembangkan tahun 2018 oleh Xian Aircraft Industrial Cooperation dan dirilis tahun 2020.

Peningkatan kapabilitas militer Tiongkok didukung juga dengan peningkatan kemampuan angkatan bersenjatanya (People’s Liberation Army). Perkembangan angkatan bersenjata Tiongkok ditandai pada tahun 1990-an dengan mengadakan reformasi militer secara masif baik dalam birokrasi institusi serta hubungan sipil dan militer (Cordesman & Kendal, 2016). PLA memiliki 3 pilar penting, Pilar pertama yaitu pembangunan, pengadaan, akuisisi alutsista modern, dan peningkatan teknologi militer. Pilar kedua yaitu reformasi pada sistem dan institusi PLA. Pilar ketiga yaitu tentang pembaharuan doktrin pertahanan dan strategi perang. Pilar ini menjadi acuan bagi Tiongkok untuk terus meningkatkan kapabilitas militernya hingga saat ini. Lewat perkembangannya yang cukup cepat, militer Tiongkok dinobatkan sebagai negara dengan militer terkuat di Asia dan terkuat ketiga di dunia menurut Global Fire Power. Global Fire Power juga menobatkan Tiongkok sebagai negara dengan jumlah personel militer terbanyak di dunia dengan jumlah 2.180.000 tentara aktif dan 800.000 tentara cadangan.

Kenaikan kapabilitas militer Tiongkok yang terjadi terus-menerus setiap tahun berdampak pada instabilitas kawasan Asia Timur. Kawasan Asia Timur memiliki sejarah kelam peperangan yang menimbulkan traumatis pada kekuatan militer. Peningkatan anggaran militer Tiongkok yang cukup signifikan tiap tahun menimbulkan ancaman bagi negara-negara di kawasan Asia Timur khususnya Jepang sebagai negara rival Tiongkok. Pembangunan militer dan penegasan kekuasaan Tiongkok memprovokasi adanya perlombaan senjata di kawasan Asia Timur (Purwanto, 2010).

Hubungan Tiongkok dan Jepang sering disebut “not hot, not cold either”, namun Jepang tetap menunjukan respon yang cukup agresif terhadap kebijakan Tiongkok ini. Tahun 2020, anggaran militer Jepang naik sebanyak 8.3%. Stephen Nagy (Profesor di Departemen Politik dan Kajian Internasional di Universitas Kristen Internasional Tokyo) berpendapat bahwa peningkatan Jepang didorong oleh perluasan luas jejak militer China di wilayah tersebut dan secara global (“Siap Hadapi China dan Korut”, 2020). Jepang juga mendorong untuk peningkatan system rudal bagi pertahanan mereka. Jepang juga menuntut adanya keterbukaan dan transparansi atas penggunaan anggaran belanja militer Tiongkok.

Berbeda dengan negara tetangganya, Korea Selatan tidak terlalu merespon secara signifikan atas pengembangan kapabilitas militer Tiongkok. Walaupun Korea Selatan juga ikut menaikan anggaran militernya, namun Presiden Moon In Jae berpendapat itu dikarenakan serangkaian proses perdamaiannya dengan Korea Utara.

Amerika Serikat sebagai rival Tiongkok yang memiliki pengaruh di kawasan Asia Pasifik lewat Jepang dan Korea Selatan, ikut serta bereaksi atas kebijakan Tiongkok. Amerika Serikat menuntut Jepang dan Korea Selatan ikut menaikkan anggaran militernya untuk bisa siap menghadapi Tiongkok yang dianggap sebagai sebuah ancaman. Jepang sepakat untuk memenuhi permintaan Amerika Serikat atas dasar pertimbangan keamanan negaranya dan balance of power di kawasan Asia Timur (Santoso, 2019). Namun, Korea Selatan tetap menolak walaupun telah diiming-imingi kenaikan 13% dari bantuan Amerika Serikat untuk militer Tiongkok.

Daftar Pustaka

Bitzinger, R. (2011). Modernising China’s Military, 1997-2012. China Perspectives, (4), 7-15. https://doi.org/10.4000/chinaperspectives.5701

Cordesman, A. H., & Colley, S. (2016). Chinese Strategy and Military Modernization in 2015: A Comparative Analysis. Rowman & Littlefield

Fleurant, A., Perlo-Freeman, S., Wezeman, S. T., & Wezeman, P. D.. (2016). Trends in International Arms Transfers in 2015. Stockholm International Peace Research Institute. https://www.sipri.org/publications/2016/sipri-fact-sheets/trends-international-arms-transfers-2015

Purwanto, A. J. (2010). Peningkatan Anggaran Militer Cina dan Implikasinya terhadap Keamanan di Asia Timur. SPEKTRUM7(1). https://www.publikasiilmiah.unwahas.ac.id/index.php/SPEKTRUM/article/view/495

Santoso, A. (2019). Kebijakan Pertahanan Jepang Dalam Merespon Modernisasi Militer Tiongkok [Doctoral dissertation, University of Muhammadiyah Malang]. EPrints UMM. http://eprints.umm.ac.id/57064/

Siap Hadapi China dan Korut, Jepang Perbarui Sistem Rudal. (2020, 1 Oktober). CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/internasional/20201001105745-113-553084/siap-hadapi-china-dan-korut-jepang-perbarui-sistem-rudal

Citradi, Tirta. (2020, 29 Mei). China Naikkan Anggaran Militer, Bersiap Untuk World War III. CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/news/20200528160518-4-161593/china-naikkan-anggaran-militer-bersiap-untuk-world-war-iii

Author: Jane Alice Kencana

Future International Relations Specialist who still learn !

34 thoughts on “Kenaikan Kapabilitas Militer Tiongkok, Ancaman Bagi Kawasan Asia Timur

  1. sangat informatif! melihat perkembangan militer tiongkok yang begitu pesat, sepertinya negara lain tidak bisa bersantai untuk mampu mengimbangi kekuatan tiongkok

  2. artikel yang bagus! dan karena modernisasi militer yang dilakukan Tiongkok ini semakin mempengaruhi hubungannya dengan negara-negara di kawasan Asia Timur, apalagi dengan adanya AS sebagai sekutu Jepang dan Korea Selatan

  3. Tiongkok memang meresahkan bukan hanya di kawasan asia timur namun bagi seluruh dunia, kenaikan kapabilitas militer Tiongkok memicu adanya ketakutan dan mengancam perdamaian dunia, terima kasih author telah membuka wawasan baru.

  4. Pingback:Dedicated Server

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *