Dinamika Laut China Selatan: Posisi Indonesia dalam Sengketa Laut China Selatan

Dalam perkembangannya, dunia mengalami perubahan konstelasi di abad 21 ini, kekuatan politik dan ekonomi dunia tidak hanya di Eropa dan Amerika, melainkan diAsia. Pada 2011 terdapat laporan yang berjudul Asian 2050: Realizing the Asian Century, didalamnya Bank Pembangunan Asia memperhitungkan jika ditahun 2050 ekonomi dunia separuhnya berada di genggaman Asia. Peningkatan ekonomi yang pesat ini disinyalir oleh China, Jepang, India, Indonesia, Korea Selatan, Thailand juga Malaysia (Raharjo, 2014). Tetapi, hubungan negara-negara diAsia dinamika nya tidak berjalan selalu mulus, terdapat berbagai sengketa juga konflik perbatasan yang menjadikan masalah paling dominan di kawasan Asia dan hal ini juga dapat mengancam stabilitas dinamika kawasan Asia.

Konflik ini bisa dikatakan membuat konflik yang rentan akan timbulnya perang karena terdapat dominasi dari kekuatan China yang juga terus memodernisasi kekuatan militernya. Hal tersebut tentu menghasilkan protes dari negara-negara pengklaim kawasan Laut China Selatan yang lain. Tidak hanya diam, negara-negara yang memiliki kepentingannya di Laut China Selatan juga meningkatkan pasokan militernya dalam mengantisipasi semakin tingginya dominasi China di kawasan Laut China Selatan. Konflik ini berdampak tidak hanya antara negara-negara ASEAN dan Asia Timur, tetapi juga berakibat konflik bilateral dalam ASEAN itu sendiri, misalnya seperti konflik dua negara antara Malaysia dan Brunei, Vietnam dan Filipina. Indonesia dan Malaysia.  

Dalam menanamkan kekuatannya di Laut China Selatan, China juga meningkatkan posisinya di kawasan ASEAN, termasuk Indonesia. Selain itu, kekuatan lain seperti Amerika Serikat merasa terancam dengan adanya kekuatan baru yang muncul yaitu China. Reaksi AS tersebut mensinyalir jika Asia merupakan kawasan yang penting bagi AS dan negara tersebut memiliki kepentingannya diAsia. ASEAN sendiri memiliki kapasitas yang terbatas dalam menangani isu-isu geostrategic yang sensitif seperti sengketa Laut China Selatan. Terdapat beberapa negara anggota ASEAN yang juga yang menegosiasikan draf kode etik atau Code of Conduct (COC), pendekatan melalui CoC ini juga harus tetap dilengkapi dengan upaya dalam menciptakan rezim lingkungan dan perikanan yang berkelanjutan. (Roberts, 2018)

Upaya yang dilakukan negara-negara non ASEAN pun sebagian besar memiliki tujuan tersendiri. Keadaan seperti ini telah memberikan celah kritis terkait koordinasi berkelanjutan dari penunjang kerja sama maritim. Terkait permasalahan Laut China Selatan, Indonesia merupakan salah satu negara yang termasuk didalamnya. Pandangan geostrategic dan geopolitik Indonesia terhadap Laut China Selatan, kawasan Laut China Selatan merupakan hal penting dalam suatu negara yang ingin meningkatkan kekuatan posisinya, yang membuat negara terkait berusaha menjaga hegemoninya di kawasan supaya dapat menggunakan potensi dari sepanjang “tepian pasifik”.

Pada dinamika konflik Laut China Selatan, Indonesia sebagai negara yang berperan sebagai “midwife country” didalam ASEAN, karena Indonesia tetap menjaga hubungan baik dengan China dan AS, tetapi tetap berjaga-jaga serta menekankan perdamaian juga stabilitas kawasannya. (Odgaard dalam Darmawan & Mahendra, 2018) dalam Indonesia sebenarnya tidak memiliki kepentingan secara langsung di area sengketa, namun tetap ikut berperan aktif dalam mengupayakan resolusi konflik, seperti dengan memberikan wadah untuk berdialog dan memahami peluang kerja sama di area sengketa yaitu pertemuan koordinasi tahunan Managing Potential Conflicts in the South China Sea (MPCSCS) yang sudah dijalani sejak tahun 1990.

Indonesia memiliki sikap yang merupakan refleksi dari tujuan nasional yang tertera pada UUD 1945, yaitu ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan asas kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Tentunya Indonesia melakukan hal tersebut juga karena termasuk ke salah satu negara yang berada di kawasan Laut China Selatan dan tentunya ingin menjaga keamanan kawasannya. Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Indonesia menyatakan bahwa akan berusaha meyakinkan China supaya bersedia dalam berdialog terkait konflik dalam forum multilateral.

Pasalnya, potensi konflik yang berada di kawasan Laut China Selatan tidak hanya melibatkan negara-negara Asia Tenggara ataupun Asia Pasifik melainkan negara-negara di luar kawasan juga turut serta berpeluang dalam konflik ini. Potensi konflik yang cukup mengkhawatirkan ini tentunya sangat berpengaruh terhadap stabilitas kawasan Asia Tenggara dan memaksa ASEAN yang di motori oleh Indonesia, karena Indonesia disini bersikap netral yang bertujuan untuk memikirkan hal ini dengan serius dan menjaga segala kemungkinan dari gangguan stabilitas keamanan yang akan muncul. Selain itu, jika konflik terkait Laut China Selatan meluas, pastinya dapat mempengaruhi kondisi ekonomi, politik dan tentunya keamanan Indonesia. Keterlibatan Indonesia tetap terlihat walaupun Indonesia sudah tidak menjabat sebagai chairman ASEAN. Di bulan September tahun 2012, Indonesia kembali bergerak untuk memaparkan draf nol kode tata berperilaku disela pertemuan Majelis Umum PBB. Ketika Indonesia sudah mendapat persetujuan dan kebulatan suara terkait penggunaan dokumen ini untuk mendiskusikan kode tata berperilaku China, Indonesia juga berkunjung ke lima ibu kota negara Anggota ASEAN, yaitu Hanoi, Manila, Phnom Penh, dan Singapura dalam rangka membangun kesamaan posisi terutama dalam kode tata perilaku. (Darmawan & Mahendra, 2018)

Potensi sumber daya alam yang dimiliki Laut China Selatan sangatlah besar, itu merupakan salah satu penyebab wilayah kawasan Laut China Selatan ini diperebutkan. Oleh karenanya konflik di kawasan tersebut dapat berdampak terhadap Indonesia. Wilayah Utara kepulauan Natuna yang berada di perairan Laut China Selatan termasuk ZEE Indonesia, maka Indonesia memiliki kepentingan dalam mengklaim wilayah itu. Dalam sisi yang lain, kepentingan nasional Indonesia terancam karena wilayah ZEE Indonesia di perairan tersebut dipastikan akan terkena spillover yaitu eksternalitas proses yang mempengaruhi mereka yang tidak terlibat langsung. Dalam hal ini, Indonesia harus berpegang pada kekuatan sendiri karena ASEAN sulit untuk diandalkan dalam pertarungan bertarung melawan kekuatan besar kawasan untuk bertahan pada sisi stabilitas kawasan. Hal tersebut karena ASEAN disinyalir untuk bersatu, bahkan negara ASEAN sendiri ikut terlibat dalam pihak yang berebut klaim di Laut China Selatan.

Dalam bidang ekonomi, Implikasi ekonomi secara langsung yang terjadi kepada Indonesia dalam konflik ini adalah terancamnya pendapatan negara yang berasal dari gas bumi di area ZEE Indonesia pada kawasan tersebut. Ladang gas bumi yang berada di wilayah ZEE Indonesia sungguh memberikan kontribusi yang cukup tinggi dalam pendapatan nasional. Tidak hanya itu, terdapat juga sumber gas bumi yang belum dieksplorasi sama sekali yang berada di sekitar Kepulauan Natuna, yaitu blok Natuna D-Alpha yang menjadi sengketa antara pemerintah Indonesia dan perusahaan minyak AS yaitu, Exxon mobile. Adapun implikasi ekonomi secara tidak langsung yaitu meningkatnya biaya operasional komoditas ekspor Indonesia pada kawasan Asia Timur.  Ketika eskalasi konflik yang terdapat di Laut China Selatan meningkat tentunya dana terkait asuransi kapal yang melintasi perairan tersebut juga meningkat drastis.

Daftar Pustaka

Roberts, C.B. (2018). ASEAN, The South China Sea Arbrital Award, and the Code of Conduct: New Challanges, New Approaches. Asian Politics & Policy, 10(2), 190-218.
https://doi.org/10.1111/aspp.12391

Darmawan, A.B dan Mahendra, L. (2018). Isu Laut Tiongkok Selatan: Negara-negara ASEAN terbelah menghadapi Tiongkok. Jurnal Global dan Strategis, 12(1), 79-100.
http://dx.doi.org/10.20473/jgs.12.1.2018.79-100

Raharjo, S.N.l. (2014). Peran Indonesia dalam Penyelesaian Laut Tiongkok Selatan. Jurnal Penelitian Politik, 11(2), 55-70.
https://doi.org/10.14203/jpp.v11i2.201

Author: Pingky Agustin

Politik Internasional dan HI di Asia Tenggara dan Asia Timur

36 thoughts on “Dinamika Laut China Selatan: Posisi Indonesia dalam Sengketa Laut China Selatan

  1. Nice article with interesting topic also well-written one Pingkyy!!! Thankyou for sharing with us and augment our knowledge! Keep up the good work, stay healty, safe, sane, and God Bless🌻

  2. Seharusnya untuk saat ini masyarakat harus lebih aware terhadap hal2 seperti ini, terutama anak muda, agar lebih membuka wawasan tentang perkembangan dunia saat ini seperti apa, dan bisa tahu impact ke negara Indonesia seperti apa, terobosan apa yang perlu dilakukan, saat ini pemikiran-pemikiran yang cerdik dan fresh sedang sangat dibutuhkan untuk negara kita ini

  3. Such a good article! Pembahasannya menarik terkait LCS, dimana LCS juga merupakan titik temu kepentingan-kepentingan negara besar. Good job Pingky!✨

  4. Isi artikelnya sangat bermanfaat dan kaya akan informasi penting. Namun, yang saya temukan pada artikel ini adalah masih banyaknya kekeliruan dalam hal penulisan, seperti konjungsi di- yang dimaksudkan sebagai preposisi tanpa diikuti dengan spasi setelahnya dan kurangnya penggunaan tanda koma sebelum kata “yaitu”, yang dimaksudkan untuk memberi jeda pada pembacaan dan sebagai bagian penegas untuk kata/kalimat selanjutnya.

  5. Penting banget buat kita tahu permasalahan konflik Laut Cina Selatan yang nggak kunjung reda dan artikel ini memberikan informasinya. Terima kasih banyak untuk tulisannya. Saya jadi tahu bagaimana posisi Indonesia di konflik Laut Cina Selatan ini

  6. Pingback:eloboost

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *