Kontra Terorisme Jepang, Perdamaian Internasional atau Alat Pemenuhan Kepentingan Nasional?

Terorisme hingga kini masih merupakan isu keamanan yang menyita perhatian global. Masyarakat dunia menyerukan kontranya atas isu yang mengancam stabilitas keamanan global ini, sehingga negara sebagai aktor utama dalam panggung internasional berupaya untuk mengekang aktivitas terorisme melalui kebijakan – kebijakan dalam negeri, dan membangun kerja sama lintas negara dan internasional dalam menangani isu ini. Fenomena 9/11 merupakan salah satu aksi terorisme yang tidak akan dilupakan sejarah, sekitar 2.977 nyawa melayang dan puluhan ribu korban luka-luka telah membawa trauma bagi dunia. Kelompok radikal, Al – Qaeda yang berdiri sejak 1986 diAfganistan telah melakukan aksi terorisme melalui pembajakan maskapai penerbangan dan serangan bunuh diri. Merespons fenomena yang sangat serius ini, masyarakat internasional bekerja sama mencari solusi untuk menghindari fenomena yang sama kembali terulang. Jepang merupakan salah satu negara yang sangat vokal menyampaikan kontranya terhadap terorisme. Pada sidang umum PBB 13 September 2002, Jepang menyampaikan komitmennya melalui Perdana Menteri Jepang, Junichiro Koizumi terkait isu terorisme yang membawa kekhawatiran masyarakat global. Dalam pidatonya, Jepang mengungkapkan rasa berdukanya atas apa yang menimpa Amerika Serikat dan mengutuki segala bentuk terorisme dan mendukung penuh pemberantasan dan pencegahan terorisme. Melihat seriusnya dampak yang dihasilkan dari tindak terorisme, Koizumi meminta ketersediaan seluruh negara anggota untuk menyimpulkan konvensi internasional terkait terorisme. Pidato juga menjelaskan kontribusi yang telah Jepang lakukan dalam perannya melakukan konsolidasi perdamaian dan pembangunan bangsa bagi Afganistan (Ministry Of Foreign Affairs Of Japan, 2002.).

Keterlibatan Jepang dalam memerangi isu terorisme memunculkan beberapa asumsi – asumsi dasar mengenai apa yang melandasi Jepang mau berkontribusi aktif memerangi aksi terorisme ini. Asumsi pertama, sebelum terjadinya peristiwa serangan terorisme 9/11, Jepang telah terlebih dahulu merasakan dampak dan bahaya yang dimunculkan dari aksi terorisme pada tahun 1995 atas kejadian penyerangan terhadap sistem transportasi bawah tanah Jepang oleh kelompok radikal Aum Shinrikyo yang dilakukan secara berkala dan terstruktur, penyerangan ini menewaskan setidaknya 20 orang dan melukai ribuan orang atas pelepasan gas sarin sebagai senjata terornya, sehingga Jepang tergerak untuk terlibat aktif guna mencegah bencana yang sama kembali terulang. Asumsi kedua, aliansi Jepang – Amerika Serikat yang sangat kuat. Sebagai bentuk solidaritasnya terhadap mitranya tersebut, Jepang merasa sangat perlu untuk membantu Amerika Serikat melancarkan segala bentuk tindakannya dalam memerangi aksi terorisme, termasuk invasi yang dilakukan Amerika Serikat diAfganistan. Peran aktif Amerika Serikat yang begitu banyak dalam pembangunan negara Jepang inilah, yang memicu Jepang sepakat untuk terlibat dalam invasi Amerika Serikat. Asumsi ketiga, Jepang melihat rawannya kawasan Asia akan tindak terorisme, melihat tingginya aksi terorisme di kawasan Asia pada era tahun 2000-an. Mengacu pada hal ini, Jepang perlu memperkuat perannya di kancah global dan kawasan sehingga Jepang terhindar dari potensi ancaman terorisme. Asumsi keempat, adalah Jepang menggunakan keterlibatannya pada kawasan Timur Tengah, terkhusus Afganistan dan Irak sebagai alat pemenuhan kepentingan nasionalnya.

Asumsi bahwa Jepang memanfaatkan keterlibatannya dalam war on terror melalui invasi Amerika Serikat diAfganistan untuk memenuhi kepentingan nasionalnya sangat kuat jika melihat perilaku Jepang dalam dua fenomena terorisme yang telah terjadi, yakni terorisme 1995 Jepang dan fenomena 9/11, melihat perilaku Jepang dalam merespons aksi terorisme di negerinya justru terlihat tidak seheboh respons Jepang terhadap keluarkan fenomena 9/11 Amerika Serikat. Mungkin karena perbandingan jumlah korban dan intensitas kehancuran fasilitas publik? Atau ada potensi keuntungan, sehingga Jepang terlihat sangat gencar menyuarakan dan mengimplementasikan “war on terror”? Asumsi ini semakin menguat ketika setelah terjadinya fenomena 9/11, Jepang memberlakukan undang-undang khusus terkait isu terorisme di negaranya pada tahun 2001. Undang-undang inilah yang memudahkan dan sebagai landasan bagi Jepang dalam kontribusi atau misinya membantu invasi Amerika Serikat diAfganistan. Jepang mengirimkan pasukan Japanese Self – Defense Forces (JSDF) untuk turut serta dalam operasi perdamaian PBB diAfganistan dan Irak, dan pasukan non – tempur Maritime Self – Defense Force (MSDF) ke Samudera Hindia yang diperbantukan untuk mengangkut perlengkapan rekonstruksi bagi Afganistan. Kontribusi ini didukung dengan adanya undang-undang kerja sama keamanan internasional 1992 PBB terkait operasi perdamaian (Webber & Smith, 2002). Namun dalam kontribusinya, militer Jepang tak dapat berperan sangat besar karena adanya institusi yang membatasi peran militer Jepang (Reischauer, 1988). Dalam mendukung war on terror diAfganistan, Jepang berkomitmen dalam membantu mewujudkan perdamaian, keamanan, rekonstruksi dan bantuan kemanusiaan bagi Afganistan, di samping itu Jepang telah memberikan bantuan dana sebesar 5 miliar dolar Amerika Serikat demi implementasi komitmennya. Jepang juga turut berperan aktif dalam perubahan sistem pemerintahan Afganistan dengan mengirimkan ahli hukum ke Kabul untuk membentuk konstitusi baru dalam rangka mengubah citra ‘surga terorisme’ Afganistan menuju wajah yang baru.

Kemudian, jika betul adanya unsur kepentingan dalam kontra terorisme Jepang pada invasi Afganistan, apa kepentingan nasional yang ingin Jepang capai melalui keterlibatannya? Sumber daya alam, peningkatan citra, peningkatan militer, atau hal lain? Aliansi Jepang – Amerika Serikat sedari Perang Dunia II tidak hanya membantu Jepang dalam meningkatkan kemampuan negaranya, namun Jepang juga melihat bahwasanya aliansinya dengan Amerika Serikat dapat sebagai alat pencapai kepentingannya di luar kawasan. Situasi regional kawasan Asia Timur yang cenderung tidak stabil dengan adanya pengembangan nuklir Korea Utara yang terus berjalan dan peningkatan kemampuan militer Tiongkok yang merupakan ancaman yang serius bagi Jepang. Melalui kontribusi bantuan yang diberikan Jepang dalam invasi Amerika Serikat, dapat memberikan keuntungan bagi Jepang, Melalui peningkatan aliansi ini Jepang dapat memastikan bahwa Amerika Serikat akan dapat terus menjamin kemanan dan memberikan proteksi bagi Jepang ditengah situasi ketegangan militer yang berlangsung di kawasan Asia Timur, sehingga Jepang dapat menekan anggaran militer untuk mengembangan kemampuan militernya. Kepentingan ekonomi juga terlihat melandasi Jepang dalam kontribusinya memerangi terorisme Afganistan, mengingat Kawasan Timur Tengah identik dengan kekayaan sumber daya. Sebagai negara industri yang maju, Jepang menggantungkan sumber daya minyak Timur Tengah untuk menggerakan roda perekonomiannya, sehingga kekayaan cadangan minyak, gas, uranium dan mineral yang dimiliki Afganistan merupakan sebuah potensi yang dapat Jepang peroleh dalam aksi kontra terorismenya diAfganistan. Meskipun peran yang Jepang lakukan telah membawa perubahan yang besar bagi Afganistan dalam rekonstruksi sistem pemerintahannya. Perilaku Jepang dalam kontribusinya memerangi tindak terorisme tentunya tak bisa dilepaskan dari sifat negara yang selalu mementingkan kepentingan nasionalnya dalam peran yang diambil atas suatu fenomena nasional. Kembali kepada kacamata masing-masing, apakah argumentasi ini dapat disepakati, atau mungkinkah kontra terorisme Jepang justru lebih merujuk pada kepentingan perdamaian?

DAFTAR PUSTAKA

Reischauer, E. O. (1988). The Japanese Today: Change and Continuity. Harvard University Press.

Webber, M., & Smith, M. (2002). Foreign Policy in a Transformed World. Pearson Education.

Ministry of Foreign Affairs of Japan. (2002). Statement by H.E. Mr. Junichiro Koizumi Prime Minister of Japan at the fifty-seventh session of the General Assembly of the United Nations. https://www.mofa.go.jp/region/n-america/us/pm-s0913.html.

Author:

103 thoughts on “Kontra Terorisme Jepang, Perdamaian Internasional atau Alat Pemenuhan Kepentingan Nasional?

  1. Kali kedua baca artikel dari author ini, dan yg ini jauh lebih menarik dari artikel sebelumnya Ditunggu artikel-artikel selanjutnya penulis

  2. Jepang dan Amerika Serikat memang memiliki ketergantungan dalam bidang keamanan dan pertahanan, maka dari itu Jepang ikut serta mendunkung global war on terror milik AS.

  3. Artikelnya sangat menarik dan penulisannya juga sistematis sehingga mudah dipahami, sangat bermanfaat. Ditunggu artikel selanjutnya:)

  4. Terorisme memang menjadi musuh dari setiap negara. Di dalam itu bagaimana setiap negara menyikapi tentang terorisme yang berkembang.

  5. Thankyou author for the article! It’s a good topic and also well-written. Keep up the good work, stay healty, safe, sane, and God Bless🌻

  6. Artikel yang sangat menarik untuk dibaca, dikemas dengan bahasa yang sangat mudah dipahami, dan menambah wawasan bagi para pembacanya. Good job, author🙏

  7. Dukungan Jepang terhadap perang melawan terorisme adalah langkah pemerintah melindungi kepentingannya. Walaupun peran militer yang dimiliki Jepang sangat minim, tidak menyurutkan keinginan negara ini untuk masuk dalam komunitas internasional. Nice article 👌🏻

  8. Artikel ini benar benar sangat menarik untuk dibaca dari awal hingga akhir. Memberikan informasi yang benar-benar berguna bagi pembaca. Ini sih keren ya! Keep up the good work!

  9. Menarik sekali dari judulnya, menambah wawasan isi dari artikel ini pun. Terima kasih, Egaa. Semangattt, ditunggu artikel berikut. Good job.

  10. terimakasih author untuk artikel yang membawa pengetahuan baru bagi saya penikmat bacaan jejaring sosial 🙏🏻 alangkah baiknya jika artikel disertakan gambar atau foto

  11. Sajian yang menarik ega! Jepang dalam upaya menangkal Terorisme sangat jarang dibahas. gramatikal dan kerangka penyusunan penelitan yang baik. Good Job!

  12. “atau mungkinkah kontra terorisme Jepang justru lebih merujuk pada kepentingan perdamaian”

    Suka dengan pandangan ini.. karena salah satu alasan Jepang membubarkan militernya adalah bertujuan untuk menghindari agresi dengan negara lain. Good Job Ega.

  13. Pingback:superslot
  14. Pingback:view

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *