Dinamika Upaya Kontra-Terorisme Jepang di ASEAN

Jepang merupakan negara di kawasan Asia Timur dengan keadaan ekonomi politik dan militer yang cukup unggul ditambah industrialisasi serta pengembangan teknologi mutakhir banyak berpusat di negara ini. Sebagai negara maju, Jepang tentunya memiliki pandangan tersendiri terhadap isu terorisme global. Meskipun sejarah belum pernah mencatat bahwa Jepang menjadi target utama langsung gerakan terorisme jihad global, namun warga negara Jepang yang tersebar di banyak tempat dengan ancaman terorisme inilah yang membuat Jepang juga cukup serius untuk ikut serta menanggulangi terorisme global.

Penangkapan wartawan Jepang yang paling terkenal Kenji Goto dan Haruna Yukawa di oleh militan Negara Islam di Irak oleh Brigade Mujahidin, tidak menjadi satu-satunya peristiwa penculikan warga Jepang oleh kelompok terorisme. Abu Sayyef dari Filipina dan Brigade Bertopeng dari Aljazair juga pernah melakukan kasus serupa. Warga Jepang juga menderita akibat serangan teroris yang lebih luas. Tewasnya warga negara Jepang akibat serangan pemimpin teroris, Moktar Belmoktar, dan organisasi terorisnya di fasilitas minyak In Amenas, Aljazair pada Januari 2013, bersamaan dengan tewasnya turis Jepang dalam serangan Museum Nasional Tunis Bardo pada tahun 2015 adalah pengingat yang gamblang tentang kerentanan warga negara asing dan profesional di wilayah yang rentan dan krisis.

Sebagai pemegang kekuatan ekonomi global, Jepang tak akan lepas dari konsekuensi lain atas aset dan bisnis internasional yang rentan menjadi sasaran teroris. Jepang secara tidak langsung merupakan target aksi terorisme karena kehancuran Jepang akan berdampak pada keadaan global dikarenakan nilai strategisnya yang tinggi. ASEAN merupakan mitra Jepang yang sangat penting dan telah menerima FDI (Foreign Direct Investment) terbesar dari Jepang tentunya membuat kawasan ASEAN ini menjadi fokus utama terhadap kepentingan Jepang (Zarate, 2016). Namun sangat disayangkan, ASEAN merupakan kawasan yang rentan terhadap ancaman terorisme.

Pada 17 Agustus 2015, bisnis Jepang di Thailand berada dalam risiko ketika bom di Bangkok menghantam pusat komersial. Hubungan operasional dan organisasi antara al-Qaidah dan kelompok-kelompok jihadis di Asia Tenggara telah terdeteksi sejak 1990-an (Zarate, 2016). Kawasan ASEAN menjadi tuan rumah atas kebangkitan kelompok-kelompok yang berafiliasi sendiri dengan Negara Islam khususnya, Abu Sayyaf dan Mujahidin Indonesia Timor (MIT) yang telah bersatu untuk mendukung ISIS, mendorong orang Filipina, Indonesia, dan Malaysia untuk melakukan perjalanan ke daerah Irak-Suriah (Zenn, 2014). Kelompok-kelompok ini juga diketahui menculik untuk tebusan dan menyerang pasukan keamanan di negara mereka sendiri. Pada Januari 2016, serangan terkoordinasi di Jakarta menewaskan delapan orang dan diduga disebabkan oleh ISIS. Jepang akan tetap rentan terhadap kelompok-kelompok regional ini dan adaptasinya, berdasarkan kedekatan regionalnya dan eksposur kepentingan komersialnya, warga negara, dan diplomatnya ke wilayah-wilayah ini dalam kekacauan.

Menyadari ancaman terorisme ini, Jepang perlu membuat kebijakan preventif untuk menanggulangi terorisme global. Jepang sebagai mitra dagang ASEAN memandang adanya peluang kerjasama yang lebih erat yang berpotensi memimpin sistem kontrol ekspor internasional yang lebih ketat.

Andil Jepang dimulai sejak tahun 2004, ditandai dengan diadopsinya Deklarasi Bersama ASEAN – Jepang untuk Memerangi Terorisme Internasional (ASEAN-Japan Joint Declaration for Cooperation in the Fight against International Terrorism) yang mencakup beberapa strategi kerjasama penanggulangan terorisme regional termasuk koordinasi logistik, kerjasama dalam upaya pendanaan kontraterorisme, peningkatan kapasitas penegakan hukum anti-terorisme regional, dan pengentasan kemiskinan (Zarate, 2016).

Pada tahun 2006 Jepang melanjutkan kerjasamanya dengan adanya Dialog Kontra-terorisme ASEAN-Jepang. Kerjasama ini menekankan kepada pertukaran informasi, analisa geopolitik ancaman terorisme, serta proyek-proyek infrastruktur untuk melawan terorisme. Dialog ini diimplementasikan lewat disediakannya dana melalu Japan-ASEAN Integrated Fund (JAIF) dengan skema yang dibuat oleh pemerintah Jepang dalam bentuk bantuan hibah dengan program “Grant Aid for Cooperation on Counter Terrorism & Security Enhance” beranggaran ¥7,2 Miliyar. Hibah ini digunakan untuk penyediaan kapal patroli di Indonesia, peningkatan system komunikasi keamanan maritime di Filipina, perbaikan  fasilitas keamanan di pelabuhan Autonomous Phnom Penh di Kamboja, dan peningkatan   perlengkapan keamanan maritim di Malaysia (Seoya, 2015).

Dialog Kontra-Terorisme Jepang dilakukan dalam 2 tahap. Pada Tahap pertama tahun 2006-2011, Jepang berfokus pada pengembangan kapasitas lewat dana hibah JAIF dan dilakukan secara bilateral dengan negara-negara di ASEAN. Tahap kedua tahun 2011-2014, Jepang memperluas dialognya dengan ASEAN dengan menambahkan prioritas baru dalam isu terorisme berupa Chemical, Biological, Radiological, Nuclear, And Explosive Agents (CBRNE) dan Cyberterrorism. Setelah 2014, dialog ini diperbaharui kembali dan menghasilkan ASEAN-Japan Joint Declaration For Cooperation to Combat Terrorism and Transnational Crime. Deklarasi ini menyatakan kerjasama ASEAN dan Jepang dalam melawan terorisme dan kejahatan transnasional lainnya seperti narkotika, perdagangan manusia, penyelundupan senjata, pembajakan kapal, pencucian uang, dan cybercrime. Hingga tahun 2019, dialog ini telah dilakukan 11 kali menunjukan komitmen ASEAN untuk menanggulangi permasalahan terorisme.

Daftar Pustaka

Zarate, J. C. (2016, Maret). The Japan-US counterterrorism alliance in an age of global terrorism. Center for Strategic and International Studies (CSIS). https://csis-website-prod.s3.amazonaws.com/s3fs-public/160407_Zarate_US-Japan_Counterterrorism_Cooperation.pdf

Zenn, J. (2014, 19 Agustus). A Closer Look at Terrorism in Southeast Asia. War on the Rocks. http://warontherocks.com/2014/08/a-closer-look-at-terrorism-in-southeast-asia/

Author: Jane Alice Kencana

Future International Relations Specialist who still learn !

36 thoughts on “Dinamika Upaya Kontra-Terorisme Jepang di ASEAN

  1. Terorisme memang menjadi permasalahan serta tanggung jawab global walaupun negara tersebut tidak dijadikan sebagai target langsung, artikelnya informatif.

  2. ASEAN memang menjadi wilayah dimana Jepang menaruh kpentingannya, jadi besar pengaruh Jepang di ASEAN. Artikelnya sangat informatif sekali.

  3. Artikelnya sangat menarik dan bermanfaat. Jepang sebagai negara penggerak ekonomi Global yang juga rentan terhadap terorisme sangat jarang dibahas, namun disini dibahas secara singkat dan komprehensif. Good Job Jane!

  4. Pingback:best ico 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *