Developmental State Taiwan: Dari Bahan Bakar Fosil ke Energi Terbarukan

Saat ini Taiwan atau Republic of China (ROC) dikenal sebagai salah satu negara maju di kawasan Asia. Sejak berakhirnya Perang Sipil di Cina antara Partai Kuomintang dan Komunis tahun 1949, pemimpin Kuomintang berpindah tempat ke Taiwan dan sejak saat itu Taiwan mulai menjalankan yurisdiksi terkait wilayah kekuasaan dan berdiri sebagai negara mandiri yang terpisah dari Cina, walaupun Cina sendiri tidak mengakui hal ini. Julukan Taiwan sebagai salah satu dari Four Asian Tigers dibuktikan lewat industrialisasi, perkembangan ekonomi, dan urbanisasi yang pesat dari era 60 hingga 90-an bersama dengan Korea Selatan, Singapura, dan Hong Kong. Partisipasi Taiwan dalam perkembangan industri semikonduktor, informasi teknologi, manufaktur, agrikultur, energi, dan sektor lainnya menjadikan industri-industri tersebut menjadi pilar dan pasar utama dalam kemajuan Taiwan. Developmental state Taiwan sendiri mencontoh dari perkembangan industrialisasi Jepang yang dikenal sebagai “Japanese Economic Miracle” seperti adanya intervensi pemerintah berupa kebijakan dan penggalakan kegiatan ekspor. Adanya peran Jepang dalam developmental state Taiwan dikarenakan Jepang sempat menguasai Taiwan sebagai akibat dari Perjanjian Shimonoseki tahun 1895 antara Dinasti Qing dan Jepang yang menghasilkan penyerahan Taiwan kepada kekaisaran Jepang selama 50 tahun hingga kekalahan Jepang saat Perang Dunia II. Pada tahun 1895, Taipei sempat diubah namanya menjadi “Taihoku” oleh otoritas Jepang. Dan selama 10 tahun pertama kolonialisasi, Jepang berfokus pada modernisasi perkotaan Taiwan seperti pembangunan kembali dan pengembangan bangunan dan jalan (Lee, 2020). Selain itu, Jepang juga memperkenalkan edukasi, grid system, sistem sanitasi, sistem pembuangan limbah, sistem irigasi, dan teknologi lainnya. Teknologi-teknologi tersebut menjadi warisan Jepang di Taiwan, termasuk sistem tenaga listrik.

Berakhirnya Perang Dunia II membuat Jepang angkat kaki dari Taiwan. Taiwan pun mengambil alih utilitas swasta Jepang yaitu pembangkit listrik tenaga air di Guishan yang selesai dibangun tahun 1905. Pembangkit listrik tersebut pun diubah menjadi perusahaan milik negara yaitu perusahaan Taipower pada 1 Mei 1946. Listrik merupakan salah satu kebutuhan utama dalam perkembangan dan industrialisasi Taiwan terutama pada era 1970-an saat tingkat konsumsi listrik melonjak akibat pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi. Dari tahun 1945-1974 pembangkit listrik Taiwan didominasi oleh tenaga air dan termal. Lalu selama tahun 1970-an akibat krisis minyak, pemerintah pun menggeser kebijakan energinya dan melakukan diversifikasi energi. Diversifikasi energi Taiwan dibuktikan lewat pembangunan tiga pembangkit listrik tenaga nuklir yang selesai dibangun pada tahun 1985 (Taiwan Power Company, 2019). Hingga mulai tahun 2006 dengan meningkatnya harga bahan bakar fosil dan kebutuhan untuk mempertahankan pembangunan keberlanjutan energi, pemerintah Taiwan pun mulai mempromosikan penggunaan energi terbarukan. Menurut data dari Taipower Company (2020), tercatat pada tahun 2017 pembangkit listrik Taiwan bergantung pada gas (34,57%), batu bara (29,36%), dan tenaga nuklir (12,28%).

Terjadinya kecelakaan nuklir di Fukushima tahun 2011 meningkatkan tekanan dari dalam negeri untuk mengurangi penggunaan pembangkit listrik tenaga nuklir. Di bawah pemerintahan Presiden Tsai Ing-Wen, Taiwan pun mengeluarkan kebijakan “nuclear-free homeland” dimana sekitar 20% dari pembangkit energi di Taiwan dialihkan menjadi energi terbarukan pada tahun 2025. Perkembangan energi terbarukan ini dikarenakan Taiwan adalah negara yang 90% energi nasionalnya bergantung pada bahan bakar fosil impor dan bahan bakar tersebut meningkatkan gas rumah kaca. Untuk mencapai target transisi energi tersebut, pemerintahan Tsai telah menerapkan kebijakan energi untuk mendorong industri energi terbarukan, terutama energi berbasis tenaga angin lepas pantai dan panel surya. Karena negaranya tidak memiliki pengetahuan dan teknologi untuk mengembangkan turbin angin lepas pantai sendiri, maka Taiwan bergantung pada pabrikan dan pengembang asing. Oleh karena itu pemerintah Taiwan (di bawah pemerintahan Tsai dan sebelumnya) memutuskan untuk melibatkan dirinya dalam mempromosikan energi hijau dibuktikan melalui beberapa kebijakan, diantaranya:

  • Solar Community Project tahun 2007 yaitu pemasangan sistem panel surya di rumah-rumah komunitas khusus yang ditentukan oleh pemerintah daerah (Hwang, 2010);
  • Renewable Energy Development Act tahun 2009 untuk meningkatkan kapasitas energi terbarukan;
  • Five Plus Two tahun 2016 yang mempromosikan energi hijau sebagai salah satu dari tujuh sektor utama yang diharapkan akan mengalihkan basis industri Taiwan;
  • Electricity Act tahun 2017 untuk meliberalisasikan pasar energi terbarukan;
  • Feed-in Tariff (FiT) yang tinggi ditetapkan untuk menarik investasi dan penyebaran energi terbarukan di pulau-pulau terpencil (Chen et al., 2014);
  • Empat tahun Wind Power Promotion Plan tahun 2017 oleh Menteri Ekonomi untuk mendorong perkembangan industri tenaga angin lepas pantai (Chien, 2019), dan masih banyak lagi.

Tujuan lain dari diimplementasikannya kebijakan-kebijakan diatas adalah untuk mempromosikan dan mengembangkan industri energi hijau dan ekonomi hijau serta menarik investor asing. Ekonomi hijau adalah ekonomi yang meningkatkan kesejahteraan manusia dan membangun keadilan sosial sekaligus mengurangi risiko dan kelangkaan lingkungan (UN Environment Programme, 2019). Tingginya permintaan akan ekonomi hijau yang juga bermanfaat bagi pertumbuhan ekonomi domestik dan energy security nasional membuat pemerintah harus melakukan intervensi untuk memastikan perusahaan lokal dapat belajar dan memproduksi teknologi tumbuh seiring dengan ekonomi hijau yang sedang berkembang.

Daftar Pustaka

Chen, W.M., Kim, H., & Yamaguchi, H. (2014). Renewable energy in eastern Asia: Renewable energy policy review and comparative SWOT analysis for promoting renewable energy in Japan, South Korea, and Taiwan. Energy Policy, 74, 319-329. https://doi.org/10.1016/j.enpol.2014.08.019

Chien, K. (2019). Pacing for Renewable Energy Development: The Developmental State in Taiwan’s Offshore Wind Power. Annals of the American Association of Geographers, 110(3), 1-15. https://doi.org/10.1080/24694452.2019.1630246

Hwang, J. J. (2010). Promotional policy for renewable energy development in Taiwan. Renewable and Sustainable Energy Reviews, 14(3), 1079-1087. https://doi.org/10.1016/j.rser.2009.10.029

Lee, Y. (2020). Taipei and Seoul’s Modern Urbanization under Japanese Colonial Rule: A Comparative Study from the Present-Day Context. Sustainability, 12(11), 4772. https://doi.org/10.3390/su12114772

Taiwan Power Company. (2019, 25 Desember). History & Development. https://www.taipower.com.tw/en/page.aspx?mid=4448

Taiwan Power Company. (2020, 21 Februari). History of Installed Capacity by Energy Type. https://www.taipower.com.tw/en/news_noclassify_info.aspx?id=4190&chk=a6afa390-3b52-42eb-bc94-db2afc6cdb6c&mid=4440&param=pn%3d1%26mid%3d4440%26key%3d

UN Environment Programme. (2019, 19 Maret). Why does green economy matter? https://www.unenvironment.org/explore-topics/green-economy/why-does-green-economy-matter

Author: Dinda Sudewo

Jepang dan Negara Industri - C

43 thoughts on “Developmental State Taiwan: Dari Bahan Bakar Fosil ke Energi Terbarukan

  1. Artikelnya sangat menarik krn mudah dipahami, sangat menambah wawasan juga tentang Energi Terbarukan, terima kasih yaa ditunggu artikel selanjutnya 👍🏻

  2. Artikel informatif dengan tema yang menarik yaitu energi terbarukan, disajikan dengan data juga membuatnya semakin menambah wawasan, good job author

    1. Aspek yang menarik untuk dibahas terkait Taiwan yang mungkin belum semua orang tahu bagaimana perkembangan dan kemajuan di sana. Selain aspek pendidikannya yang membuat banyak pemuda Indonesia untuk belajar di sana, aspek pemberdayaan sumber energinya yang lebih tersistem dan tidak 100% bergantung pada minyak bumi juga dapat kita jadikan pembelajaran untuk negara kita sendiri. Artikel yang informatif, tapi tidak terlalu berat ataupun bertele-tele. Terima kasih, penulis!

  3. Dari bacaan ini, bisa ditarik kesimpulan bahwa environmental consciousness atau kesadaran akan lingkungan saat ini menjadi trend untuk acuan dalam pengembangan ekonomi maupun industrial. Informasi diatas sangat bermanfaat untuk muda mudi yang terjun langsung dalam mengembangkan ekonomi dan industrial Indonesia.

  4. Developmentalisme state, menarik sekali ketika membahas bagaimana cara dari negara berkembang untuk merekonstruksi kebijakan,, nice dindaa

  5. Keren!! Bahasanya gak berbelit-belit, mudah dipahami, dan menambah wawasan juga terkait energi terbarukan yang bagi sebagian orang masih terdengar tabu. Good!!

  6. Pingback:click for info

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *