Pandangan Jepang Terhadap Isu Lingkungan Global: Threatening Enough?

Tekanan terhadap lingkungan global terus meningkat seiring dengan berjalannya industrialisasi negara-negara maju, termasuk Jepang. Jepang memiliki tanggung jawab bersama dengan negara maju lainnya, untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan global. Jepang juga berkontribusi secara aktif dalam menyumbang emisi gas yang buruk untuk lingkungan global. Mengingat, Jepang juga merupakan negara industri dimana kegiatan industrinya juga menghasilkan gas dan zat-zat yang beracun yang dapat mencemarkan dan merusak lingkungan, atau bahkan berefek pada kesehatan manusia.

Jepang memiliki sejarah kelam dalam isu lingkungannya. Sejak zaman Meiji, pencemaran lingkungan di Jepang marak terjadi diikuti dengan industrialisasinya. Peristiwa penyakit Minamata mengawali sejarah ini, dimana pada tahun 1958 terjadi pencemaran air laut oleh zat methylmercury yang menyebabkan kelumpuhan otak, ginjal dan kerusakan lever manusia pada saat kelahiran. Selanjutnya ada peristiwa keracunan tembaga yang disebabkan oleh drainase dari tambang tembaga Ashio pada tahun 1980 di Tochigi. Selain itu, di Prefektur Toyama juga terjadi kasus serupa hingga masyarakat sekitarnya menderita penyakit ita-itai, dimana penyakit tersebut dapat merusak tulang dan persendian hingga yang terparah yaitu degenerasi ginjal (Krisno, 2017). Kebijakan dan peraturan lingkungan Jepang saat ini merupakan konsekuensi dari sejumlah bencana lingkungan yang terjadi di Jepang pada masa lampau. Sejak saat itu, Jepang mulai menata kembali kebijakan lingkungannya dan melakukan upaya-upaya perbaikan guna meningkatkan citra lingkungan Jepang di dunia Internasional.

Akibat tejadinya beberapa kasus pencemaran lingkungan di Jepang pada masa silam yang menyebabkan citra lingkungan Jepang di mata internasional buruk, mulai awal 1990-an Jepang telah menaruh perhatiannya dan menjadikan isu lingkungan sebagai salah satu isu yang penting dalam kebijakan-kebijakan Jepang. Mengingat, pada tahun 1960-an, Jepang merupakan salah satu negara yang paling tercemar di dunia sebagai akibat dari industrialisasi yang semakin pesat namun pengendalian akan poluisnya yang minim. Maka dari itu, di tahun 1990 tersebut Jepang mulai melakukan usaha untuk meningkatkan citra lingkungannya di dunia internasional. Jepang memulai perjalanannya dalam isu lingkungan global dengan berkomitmen pada Deklarasi Rio. Puncaknya yaitu ketika Jepang menjadi tuan rumah mengenai rezim lingkungan legendaris, yaitu Protokol Kyoto pada tahun 1997 (Schreurs, 2004). Lingkungan telah menjadi landasan penting bagi citra global dan kekuatan lunak Jepang sekarang ini. Fasilitasi jepang atas Protokol Kyoto yang diikuti dengan lahirnya berbagai kebijakan lingkungan Jepang yang terus diperbaharui menempatkan Jepang di garis terdepan upaya internasional untuk memerangi perubahan iklim dan permasalahan lingkungan.

Pada tahun 2016, empat sektor ekonomi utama di Jepang yaitu listrik, industri, transportasi dan bangunan menyumbang 79% dari emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Jepang (McKinsey&Company, 2020). Seiring dengan berkembangnya perindustrian Jepang yang semakin canggih dan maju, Jepang juga telah menyadari dan merasa bertanggung jawab atas kemajuan industrialisasinya terhadap efek lingkungan global, karena Jepang sendiri juga merasakan efeknya. Sehingga Jepang banyak melakukan pembaharuan di bidang teknologinya agar lebih “eco friendly”.

Jepang merupakan negara G7 pertama yang mengajukan rencana aksi iklim global Nationally Determined Contribution (Doyle, 2020). Jepang juga telah meratifikasi Perjanjian Paris, dimana Jepang berkomitmen untuk mengurangi emisi GRK sebesar 80% pada tahun 2050. Selain itu, Jepang juga memiliki target di tahun 2030 dimana mengharuskan Jepang untuk melakukan dekarbonisasi sebanyak 26%. Untuk hasilnya, Jepang telah mengurangi sebanyak 11, 1 miliar ton gas CO2 per tahunnya sejak 2017. Namun, Jepang tetap memiliki tantangan yang cukup besar dimana 30% emisi Jepang berasal dari sektor industri yang sulit dikurangi dimana teknologi dekarbonisasinya masih belum matang. Jika dibandingkan dengan negara-negara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), Jepang masih memiliki CO2 yang tertinggi (McKinsey&Company, 2020).

Pada dasarnya, Jepang sudah melakukan berbagai upaya dalam mencapai target lingkungannya, dimulai dari mengubah orientasi kebijakannya hingga membuat kebijakan lingkungan yang cenderung memaksa, terutama untuk para pelaku industri atau korporasi di Jepang. Hal tersebut dapat terlihat dengan pengurangan emisi gas yang telah dilakukan Jepang dalam Perjanjian Paris. Perubahan besar pada kerangka kebijakan lingkungan Jepang jika diterapkan dengan serius dan konsisten dapat menghasilkan pengurangan yang subtansial dalam produksi limbah dan emisinya.

Ditengah keberhasilan Jepang dalam pencapaian target-target lingkungannya, terdapat ambiguitas mengenai pandangan dan keseriusan Jepang dalam isu lingkungan tersebut. Contohnya saja pada dokumen resmi Jepang dalam visi dan misi mengenai Free and Open Indo-Pacific (FOIP), dimana dalam visi misinya lebih menekankan kepada pentingnya aturan dan norma yang melindungi international public goods (barang publik internasional) dan memelihara kemakmuran ekonomi (Ministry of Foreign Affairs of Japan, 2020). Sebagai barang publik yang sangat diperlukan untuk kemakmuran dan stabilitas di kawasan, seharusnya Jepang juga membawa stabilitas lingkungan dalam visi misinya tersebut.

Selain itu, dalam National Defense Program Guidelines tahun 2019 berisikan mengenai ancaman yang cenderung bersifat tradisional, seperti militer dan power (Ministry of Defense Japan, 2018). Hal tersebut telah memperlihatkan bahwa ternyata masalah lingkungan belum diamankan atau diangkat sebagai ancaman yang dianggap Jepang dapat mengancam keamanan nasionalnya. Perlakuan Jepang yang menimbulkan ambiguitas tersebut terhadap isu ligkungan perlu untuk ditinjau kembali, meskipun ada upaya dan hasil yang cukup baik. Namun, jika Jepang tidak konsisten menyelesaikan permasalahan lingkungan maka target yang hampir tercapai oleh Jepang bisa saja berjalan mundur dan mengalami stagnasi.

Jika Jepang memang memiliki perhatian yang serius dalam isu lingkungan global, Jepang harus lebih membawa isu lingkungannya bersamaan dengan berbagai kebijakan-kebijakan dan perjanjian yang dilakukan Jepang, baik secara bilateral, multirateral maupun regional. Masih banyak yang harus dilakukan oleh Jepang. Selain itu, sangat penting bagi Jepang kedepannya agar menjadikan lingkungan sebagai prioritas pemerintahnya dalam skala global, karena tidak dapat dielakkan juga bahwa Jepang merupkan salah satu negara penyumbang emisi gas yang memiliki dampak buruk bagi bumi.

Daftar Pustaka

Krisno, P. L. (2017). Kemajuan Industri Dan Dampak Lingkungannya Di Jepang Sebelum Tahun 1950. Lensa Budaya, 12(1), 60-69. https://doi.org/10.34050/jlb.v12i1.3115

Schreurs, M. A. (2004). Assesing Japan’s as a Global Environmental Leader. Policy and Society 23(1), 88-110. https://doi.org/10.1016/S1449-4035(04)70028-4

McKinsey&Company. (2020). Meeting Japan’s Paris Agreement targets-more opportunity than cost. https://www.mckinsey.com/~/media/mckinsey/business%20functions/sustainability/our%20insights/meeting%20japans%20paris%20agreement%20targets%20more%20opportunity%20than%20cost/meeting-japans-paris-agreement-targets.ashx

Ministry of Defense Japan. (2018, 18 Desember). National Defense Program Guidelines for FY 2019 and beyond. https://www.mod.go.jp/j/approach/agenda/guideline/2019/pdf/20181218_e.pdf

Ministry of Foreign Affairs of Japan. (2020). Japan’s effort for a free and open Indo-Pacific. https://www.mofa.go.jp/policy/page25e_000278.html

Doyle, A., & Farand, C. (2020, 30 Maret). Japan sticks to 2030 climate goals, accused of a ‘disappointing’ lack of ambition. Climate Home News. https://www.climatechangenews.com/2020/03/30/japan-sticks-2030-climate-goals-accused-disappointing-lack-ambition/

57 thoughts on “Pandangan Jepang Terhadap Isu Lingkungan Global: Threatening Enough?

  1. Artikel yang sangat informatif dan menambah wawasan tentang bagaimana Jepang memiliki pandangan tentang isu lingkungan, yang bisa di lihat dari sejarah Jepang itu sendiri. Well done Anggia

  2. artikel yang sangat menarik dan bermanfaat untuk di baca, karena isu lingkungan memang sedang menjadi concern saat ini. good job anggia!

  3. artikel yang sangat bermanfaat untuk menambah wawasan saya sebagai mahasiswa HI, ditunggu artikel-artikel menarik lainnya dari penulis.

  4. Artikel yang sangat menarik untuk dibaca, dikemas dengan bahasa yang sangat mudah dipahami, dan menambah wawasan bagi para pembacanya. Good job, author🙏

  5. Wow I’ve gained my Insight about Japan – especially at its ecological aspect. Glad that cherry blossom cauntry already aware about environment. Meskipun dengan pemberian peringatan yang tegas terlebih dahulu. Such a great informative article, keep up the good work Anggia

  6. Bahan bacaan yg cukup menarik melihat bahwa dulunya Jepang sebagai sebuah negara yang tidak terlalu berorientasi terhadap lingkungan berubah agar industrinya dapat mengurangi dampak ke lingkungan. Hal ini sepertinya sulit untuk diterapkan di Indonesia mengingat negara kita yang ketakutan akan kehilangan para investor daripada dampak lingkungan jangka panjang kedepannya tentu ini menjadi dilema bukan hanya untuk Indonesia tapi negara negara berkembang lainnya 🙁

  7. jika dilihat dari sejarahnya, upaya yang dilakukan Jepang ini terbilang bagus, walaupun mungkin juga masih ada kekurangan. terima kasih untuk author!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *