Pengaruh Bencana Nuklir Fukushima Terhadap Strategi Energi Jepang

Jepang merupakan salah satu negara yang mengembangkan tenaga nuklir paling maju di dunia. Reaktor tenaga nuklir komersial pertama kali digunakan pada pertengahan tahun 1966 dan terus dikembangkan hingga tahun 1973 tenaga nuklir menjadi prioritas strategi nasional Jepang (“Fukushima Daiichi Accident”, 2020). Di masa lalu, Jepang mengimpor minyak mentah dalam jumlah besar. Pada tahun 1973, minyak mentah menyumbang sebanyak 75,5% dari total konsumsi energi Jepang. Namun pada tahun 1973, Jepang mengalami guncangan minyak. Khawatir pasokan harga minyak meningkat, Jepang memutuskan untuk mengurangi ketergantungannya pada minyak sebagai sumber energi utama dengan melakukan diversifikasi sumber energi negara dengan memperkenalkan energi nuklir, gas alam, dan batu bara untuk menstabilkan pasokan dan produksi energi di Jepang. Akibatnya, ketergantungan Jepang pada minyak bumi turun dari 75,5% pada tahun 1973 menjadi 40,3% pada tahun 2010 (International Atomic Energy Agency, 2019). Pada tahun 2009, energi nuklir dan LNG masing-masing menyumbang 30,8% dan 27,2%, diikuti oleh batubara yang menyumbang sebesar 23,8% dari total pembangkit listrik Jepang (Hayashi & Hughes, 2013). Dalam menentukan arah kebijakan energi negaranya, Pemerintah Jepang berusaha untuk meningkatkan ketahanan ekonomi dengan meminimalkan biaya energi, meningkatkan ketahanan energi nasional dengan mengurangi ketergantungan pada energi impor, dan mewujudkan keamanan lingkungan dengan mendukung solusi energi berkelanjutan yang tidak merusak lingkungan. Kemudian kebijakan ini secara konseptual disusun sebagai 3E yaitu (1) Economic Growth; (2) Energy Security; and (3) Environmental Protection (Vivoda & Graetz, 2015).

Secara historis, tenaga nuklir merupakan pilar utama dalam strategi energi jangka panjang Jepang dengan mengembangkan sumber daya energi alternatif yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada minyak impor. Tenaga nuklir memiliki banyak manfaat, antara lain seperti memberikan kontribusi pada diversifikasi energi, mengurangi ketergantungan pada minyak, harga produksi yang stabil dan telah berada dalam tahap pembangkit listrik bebas emisi, maka dari itu tenaga nuklir dianggap sebagai bagian integral dari sistem pasokan energi Jepang. Pada Februari 2011, Jepang memiliki 54 reaktor nuklir yang memasok sekitar 31% listrik negaranya (Vivoda & Graetz, 2015).

Salah satu Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Jepang yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Dai-Ichi yang terletak di kota Ohkuma. Fukushima Dai-Ichi dibangun pada tahun 1967 dan mulai beroperasi pertama kali dibawah Tokyo Electric Power Company (TEPCO) pada tahun 1971 (“Fukushima Nuclear Power Station”, n.d.).  Pada 11 Maret 2011, terjadi Gempa bumi besar dan tsunami dahsyat di Jepang yang menimbulkan bencana bagi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Dai-Ichi, yang menyebabkan sejumlah bahan radioaktif terlepas ke atmosfer dan laut yang memberikan dampak serius terhadap lingkungan (Vivoda & Graetz, 2015). Bencana nuklir yang terjadi di Fukushima merupakan bencana nuklir terburuk dan satu-satunya kecelakaan yang menerima klasifikasi peristiwa Tingkat 7 pada Skala Peristiwa Nuklir Internasional selain bencana nuklir Chernobyl yang terjadi pada tahun 1986 di Ukraina (Mahr, 2011). Bencana nuklir Fukushima menimbulkan berbagai pertanyaan serius mengenai regulasi tenaga nuklir, yang memicu pemikiran ulang mengenai strategi energi Jepang di masa mendatang. Pemerintah Jepang meminta peninjauan terhadap keamanan 50 reaktor nuklir negara yang tersisa, hal ini menyebabkan pada bulan Mei hingga Juli 2012 semua reaktor nuklir di Jepang tidak beroperasi. Pemadaman reaktor nuklir tersebut memicu restrukturisasi pasokan listrik negara yang tidak terduga, dan menyebabkan peningkatan pembangkit listrik berbahan bakar fosil, yang menyebabkan peningkatan impor bahan bakar fosil dan emisi gas rumah kaca (Vivoda & Graetz, 2015). Penonaktifan reaktor nuklir pasca gempa tahun 2011 menyebabkan peningkatan tajam penggunaan bahan bakar fosil sebagai pengganti energi nuklir, dimana pada tahun 2012 pangsa minyak dalam total konsumsi energi meningkat menjadi 44,5% (International Atomic Energy Agency, 2019).

Sebagai respon terhadap bencana yang terjadi di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Dai-Ichi, Pemerintah Jepang menetapkan Fourth Strategic Energy Plan for 2030 pada bulan April 2014, yang memuat kebijakan untuk mengurangi ketergantungan pada tenaga nuklir, mengurangi ketergantungan pada sumber daya fosil, dan pengembangan energi terbarukan (Agency for Natural Resources and Energy, 2018). Fourth Strategic Energy Plan memberikan pendekatan baru terhadap kebijakan energi Jepang yaitu 3E + S yang terdiri dari (1) Energy Security, (2) Economic Efficiency, (3) Environment Protection dan S melambangkan Safety, dimana keselamatan merupakan bagian penting untuk rencana energi terutama pasca bencana nuklir di Fukushima yang terjadi pada 2011 lalu. Melalui Rencana 3E + S ini, Jepang berharap dapat mengatasi dampak peningkatan konsumsi bahan bakar fosil yang terjadi pasca bencana nuklir Fukushima sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca (Movellan, 2015).

Sebelumnya, pemerintah Jepang merumuskan Basic Energy Plan pada tahun 2002. Pada Oktober 2003, pemerintah Jepang meluncurkan First Energy Plan, dan mengeluarkan Second Energy Plan pada Maret 2007, kemudian diikuti oleh Third Energy Plan yang dirilis pada Juni 2010. Pada Juli 2018, pemerintah Jepang merumuskan Fifth Strategic Energy Plan sebagai dasar orientasi kebijakan energi baru Jepang menuju tahun 2030 dan tahun 2050, dengan mempertimbangkan perubahan lingkungan energi baik di dalam maupun di luar negeri. Fifth Strategic Energy Plan bertujuan untuk berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi Jepang lebih lanjut, peningkatan standar hidup dan pembangunan global melalui pasokan energi yang stabil, berkelanjutan dalam jangka panjang dan mandiri. Fifth Strategic Energy Plan menyerukan agar energi nuklir bertanggung jawab atas 20%-22% produksi listrik pada tahun 2030, dan 22%-24% berasal dari sumber energi terbarukan, sedangkan pangsa batubara akan dikurangi menjadi 26%, LNG menjadi 27% dan minyak menjadi 3%. Rencana tersebut bertujuan untuk mengurangi emisi karbon dioksida Jepang sebesar 26% pada tahun 2030, dan sebesar 80% pada tahun 2050. Fifth Strategy Energy Plan juga berencana untuk meningkatkan kemandirian energi negara menjadi sekitar 24% pada tahun 2030, yang dibandingkan pada tahun 2016 hanya sekitar 8%. Di dalam rencana ini dikatakan bahwa pada tahun 2030, energi nuklir akan terus menjadi sumber daya beban dasar penting yang membantu menstabilkan pasokan energi dan struktur permintaan jangka panjang, dan energi nuklir masih menjadi pilihan yang layak untuk dekarbonisasi dalam jangka panjang hingga tahun 2050. Dalam rencana tersebut, Jepang mengatakan akan mengurangi ketergantungannya pada energi nuklir sebanyak mungkin, tetapi dalam rencana tersebut juga dikatakan bahwa jepang akan memenuhi target nuklirnya dengan memulai kembali reaktor dengan lebih meningkatkan keselamatan. Energi nuklir ini dikembangkan sebagai kesiapsiagaan untuk keadaan darurat (“Japanese Cabinet Approves”, 2018).

Daftar Pustaka

Agency for Natural Resources and Energy. (2018, Juli). Strategic Energy Plan. https://www.enecho.meti.go.jp/en/category/others/basic_plan/5th/pdf/strategic_energy_plan.pdf

Fukushima Daiichi Accident. (2020, Mei). World Nuclear Association. https://www.world-nuclear.org/information-library/safety-and-security/safety-of-plants/fukushima-daiichi-accident.aspx

Fukushima Nuclear Power Station, Japan. (n.d.). Power Technology. https://www.power-technology.com/projects/fukushima-daiichi/

Hayashi, M., & Hughes, L. (2013). The Policy Responses to the Fukushima Nuclear Accident and Their Effect on Japanese Energy Security. Energy Policy, 59, 86-101. https://doi.org/10.1016/j.enpol.2012.08.059

International Atomic Energy Agency. (2019). Country Nuclear Power Profiles: Japan. https://www-pub.iaea.org/MTCD/publications/PDF/cnpp2019/countryprofiles/Japan/Japan.htm#:~:text=On%203%20July%202018%2C%20the,environments%20inside%20and%20outside%20Japan

Japanese Cabinet Approves New Basic Energy Plan. (2018, 3 Juli). World Nuclear News. https://www.world-nuclear-news.org/NP-Japanese-Cabinet-approves-new-basic-energy-plan-0307184.html#:~:text=The%20Japanese%20government%20revises%20its,Law%20enacted%20in%20June%202002.&text=The%20plans%20aims%20to%20reduce,and%20by%2080%25%20by%202050

Mahr, K. (2011, 11 April). What Does Fukushima’s Level 7 Status Mean? TIME. https://science.time.com/2011/04/11/what-does-fukushima%E2%80%99s-new-%E2%80%9Clevel-7%E2%80%9D-status-mean/

Movellan, J. (2015, 9 Juli). Japan’s Long-term Energy Plan Shoots for Ultimate Balance in Economics, Environment and Safety. Renewable Energy World. https://www.renewableenergyworld.com/2015/07/09/japans-long-term-energy-plan-shoots-for-ultimate-balance-in-economics-environment-and-safety/#gref

Vivoda, V., & Graetz, G. (2015). Nuclear Policy and Regulation in Japan After Fukushima: Navigating the Crisis. Journal of Contemporary Asia, 45(3), 490–509. https://doi.org/10.1080/00472336.2014.981283


Author: Terania Herdini

48 thoughts on “Pengaruh Bencana Nuklir Fukushima Terhadap Strategi Energi Jepang

  1. Wah ternyata ada fakta unik dalam upaya pengembangan energi dengan nuklirisasi ya, disaat berbagai pihak di Indonesia mencanangkan penggunaan energi nuklir sebagai bahan bakar pembangkit tapi di Jepang justru sudah memikirkan pengurangan penggunaanya karena tau dampak yang akan ditimbulkan dikemudian hari.

    Keren nih, mudah-mudahan segera up informasi terbaru lagi ya soal dunia dan fakta unik yang kita gak tau sebelumnya, mantappu 👍🏻👍🏻👍🏻

  2. Goodjob Terania, artikel yang menarik dapat memberikan wawasan baru sehingga saya sebagai mahasiswa dapat membandingkan kepentingan-kepentingan yang berbeda pada setiap negara. Terimakasih

  3. Artikel yang dikemas dengan menarik dan mudah dimengerti sehingga pemahaman saya mengenai kebijakan energi nuklir di Jepang lebih mendalam lagi. Thanks and good job author

  4. Artikel yang sangat menarik untuk dibaca, dikemas dengan bahasa yang sangat mudah dipahami, dan menambah wawasan bagi para pembacanya. Good job, author🙏

  5. Pembahasan menarik dan pengemasan kontennya juga pas, pembaca menjadi lebih mudah memahami fenomena dengan bahasa yang digunakan penulis! untuk author semangat memperkaya penulisan, kita siap menungguuuu karya2 tulis lainnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *